Jumat, 28 Januari 2011

lagu cinta

lagu cinta


Diputus Cinta, Mahasiswi Minum Deterjen

Posted: 28 Jan 2011 03:03 PM PST

Diputus Cinta, Mahasiswi Minum Deterjen. Diputus cinta, seorang mahasiswi, Su , 19, warga Lampung Selatan, minum deterjen hingga tidak sadarkan diri di kamar indekosnya Kaliawi, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, pada Kamis (27/1) sekitar pukul 23.00 WIB.

Masih untung aksinya cepat diketahui sang nenek yang kebetulan malam itu menginap di kosan cucunya, sehingga nyawa Su berhasil diselamatkan dengan langsung membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah Hi.Abdoel Moeluk, Bandarlampung.

Menurut keterangan nenek Su, Liana ,56,aksi nekat cucunya ini usai bertengkar dengan pacarnya, Ri , 22, yang berakhir dengan Ri yang memutuskan hubungan yang sudah dijalin selama 1 tahun.

Saat Ri pergi Su sakit hati lantas lari ke kamar mandi lalu menenggak deterjen cair hingga keluar sempoyongan lalu pingsan. Dari mulutnya tercium bau deterjen tersebut.Sampai saat ini, Susi masih menjalani perawatan intensif di ruang UGD RSUD Hi. Abdoel Moeluk. (Koesma/B)

poskota.co.id Diputus Cinta, Mahasiswi Minum Deterjen

Cinta Abadi, Antara Mitos dan Pasti

Posted: 28 Jan 2011 03:01 PM PST

Seandainya Juliet tidak minum racun. Seandainya putri Aurora tidak tidur seribu tahun. Seandainya Cinderella keburu mati sebelum bertemu peri. Seandainya bom nuklir tidak tercipta. Maka, kamu boleh percaya bahwa di dunia ini memang pernah ada yang namanya cinta abadi.

Namanya juga cinta abadi, tentu saja berkualitas tinggi, kualitas terjamin oleh segala godaan dan rangsangan dalam banyak bentuknya. Biar terhalang ombak samudra, biar terpisah oleh pegunungan tinggi, pokoknya hanya dia dan dia di hati. Namun percayalah, bahwa “dia” yang dimaksud bukanlah sosok seseorang.

Cinta bukan bentuk gambaran persona, seorang manusia. Cinta adalah ekspresi imajinatif. Sebentuk langgam bayangan di kepala tentang bagaimana memperlakukan kesepian. Perasaan itu akan abadi. Sementara, manusia dalam bayangan itu berubah-ubah.

Yang Bertahan dalam Cinta

Pasangan silih berganti, kamu tetaplah kamu. Membutuhkan pelepasan emosi dari tekanan hidup. Sampai hatimu berlabuh pada dermaga yang lapang dan mengerti dirimu. Perasaan nyaman itu bertahan tak berbilang, bagai rasa asin dalam tahu sumedang. Abadi bila tidak basi. Seperti pasangan almarhum dan almarhumah, Rd Mochtar dan Roekiah. Tampan, cantik menawan, monogami, sampai mati. Cinta mereka berubah jilid dari tahun ke tahun. Tapi manusianya tetap sama. Dan, itu bukan dalam bayangan.

Resepnya sederhana. Cinta abadi adalah doa. Dan, milik mereka yang gemar berdoa pada Tuhan. Yang mengikatnya adalah pernikahan, dan pernikahan dengan bimbingan Tuhan, cenderung awet, bahkan niscaya sampai kehidupan itu berulang-ulang dalam reinkarnasi tanpa henti.

Cinta abadi dengan demikian telah menjadi serenade, dan bukan lagu biasa. Serenade yang tenang bagai riak air dalam kolam. Tidak pernah ada gelombang yang memecah dan merusaknya. Kecuali jika kau percaya adanya perselingkuhan.

Selingkuh Akhiri Keabadian Itu

Berbeda dengan cinta-baru di mana setiap pasangan tengah saling memberitahu bahwa cinta mereka dalam bentuk yang gagal dan tidak bisa dipertahankan lagi.

Serong atau selingkuh adalah sebuah pengkhianatan kepada cinta tanpa saling mengetahui. Pelakunya orang pandir yang tidak pantas dititipi sesuatu lagi, walau itu sekadar tusuk gigi. Barangkali, memang sebaiknya memilih titik aman. Mempercayakan keabadian cinta pada Tuhan. Dengan memutuskan menikah pada dia yang tepat. Dan, lantas berdoa tanpa mengingat kisah Cinderella.

harian-global.com Cinta Abadi, Antara Mitos dan Pasti

Demi Cinta, Siswi SMP Lepas “Mahkota”

Posted: 28 Jan 2011 02:55 PM PST

Beginilah kalau sudah dibuai cinta monyet. Apa pun yang dijalani baik itu pantangan maupun bukan, yang dirasakan selalu indah. Seperti yang dialami oleh Kumbang (17) dan Melati (15), warga Sanjulung, Punggur, Batam, Kepulauan Riau.

Kisah cinta dua remaja ini harus berakhir di kantor polisi karena melanggar norma dan aturan. Kumbang ditangkap aparat Polsek Nongsa, Senin (17/1/2011) lalu di rumah neneknya, di luar Batam.

Penangkapan ini dilakukan karena orangtua Melati melaporkan Kumbang ke Polsek tersebut dengan tuduhan telah melarikan anak gadis mereka yang masih di bawah umur.

Kumbang, yang ditemui wartawan di Mapolsek Nongsa, Kamis (27/1/2011), mengakui, dia dan Melati saling mencintai. Dia memacari gadis pujaannya itu sejak awal 2010 lalu. Beberapa kali hubungan mereka nyaris putus, tetapi karena saling mencintai, akhirnya hubungan asmara mereka bisa bertahan hingga sekarang.

Pada April 2010 lalu, kata Kumbang, dia sempat sangsi hubungan mereka bisa bertahan lama karena orangtua Melati tidak menyetujuinya. “Waktu itu aku bilang ke Melati, kita putus saja, orangtua dia tidak merestui karena dia masih SMP. Tapi, Melati tidak mau putus sama aku,” kata Kumbang.

Karena akan diputus, lanjut Kumbang, Melati mengajak dia untuk berjalan-jalan sambil membicarakan hubungan mereka beberapa hari kemudian. Dia kemudian menjemput Melati di rumahnya.

Setelah puas berjalan-jalan, Kumbang lalu membawa Melati menuju ke Pantai Melayu Batu Besar. Di tempat inilah mereka mulai membicarakan hubungan cinta.

Menurut Kumbang, Melati mengatakan bersedia berkorban apa saja agar hubungan cinta mereka tetap terjalin. Mendengar pernyataan itu, timbul keinginan Kumbang mencoba sesuatu yang belum pernah dia lakukan.

Di situlah dia tahu bahwa cinta Melati benar-benar tulus karena rela menyerahkan “mahkotanya”. Perbuatan mereka kembali terjadi beberapa hari kemudian. Jalinan cinta mereka pun terus berlanjut secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orangtua Melati.

Pada awal Januari lalu, tambah Kumbang, dia mendapat kabar dari kampungnya bahwa neneknya sudah sakit-sakitan sehingga harus kembali ke kampung dan tak tahu akan kembali atau tidak. Mendapat cerita itu, Melati seperti kehilangan semangat hidupnya.

“Dia bilang, dia tidak bisa hidup tanpa aku. Dia juga bilang, kalau aku pergi tidak lagi kembali ke Batam, sebaiknya dia ikut ke kampung aku. Aku sudah berusaha bilang ke dia untuk selesaikan sekolahnya, tapi dia mati-matian mau ikut denganku,” terang Kumbang.

Akhirnya, pada Jumat (7/1/2011) lalu, berangkatlah kedua sejoli ini menuju kampung asal Kumbang. Perihal ikutnya Melati bersama kekasihnya itu sama sekali tidak diketahui oleh orangtua gadis belia ini. Sepengetahuan orangtuanya, dia hanya pergi ke sekolah. Namun, Melati tak kunjung pulang ke rumah.

Menurut Kapolsek Nongsa AKP Agung Surya Prabowo, melalui Kanit Reskrim Ipda Supandi, karena Melati tidak pulang sekolah dua hari, orangtuanya pun melaporkan ke Polsek Nongsa sebagai orang hilang.

“Dia dilaporkan, tapi orangtuanya masih tetap berhubungan dengan Melati melalui telepon. Ditelepon dan di-SMS orangtuanya, Melati tetap membalas,” kata Supandi.

Keberadaan Melati akhirnya diketahui setelah orangtuanya terus membujuk untuk memberitahukan keberadaannya. Polisi bersama orangtua Melati akhirnya menjemput mereka di kediaman nenek si Kumbang.

“Di sana Melati terus dibujuk nenek Kumbang untuk pulang saja karena masih anak-anak dan sekolah. Kami tetap membawa Kumbang karena orangtua Melati melaporkan anaknya yang masih di bawah umur telah dicabuli dan dilarikan,” tambah Supandi.

Kini, Kumbang harus mendekam di balik terali besi sel tahanan Polsek Nongsa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia juga diancam dengan ancaman kurungan penjara dengan Pasal 332 Ayat (1) jo 1e KUHP dan Pasal 81 Ayat (2) UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak. (Tribun Batam/El Tjandring)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar